Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Juni 2018, Inflasi Kota Palu Tergolong Cukup Tinggi

0

PALU EKSPRES, PALU– Selama Juni 2018, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 1,89 persen. Inflasi ini tergolong cukup tinggi kurun tiga tahun belakangan ini.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Statistik Produksi BPS Provinsi Sulteng, G. A. Nasser, SE, MM, Senin (2/7/2018), di kantor BPS Sulteng.
Nasser mewakili Kepala BPS Sulteng Ir. Faisal Anwar pada kesempata tersebut menjelaskan, inflasi yang tergolong tinggi disbanding periode yang sama selama tiga tahun belakangan ini karena dipengaruhi oleh naiknya indeks harga pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan, yakni sebesar 5,51 persen, kelompok bahan makanan 4,20 persen, kesehatan 0,28 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,22 persen, pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,05 persen; dan perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,03 persen. Sedangkan penurunan indeks harga terjadi pada kelompok sandang sebesar 0,44 persen.
Pada bulan yang sama katanya, inflasi year on year Kota Palu mencapai 3,61 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 8,17 persen, sedangkan kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami penurunan indeks sebesar 0,57 persen.
Nasser menjelaskan, inflasi Kota Palu pada Bulan Juni 2018 sebesar 1,89 persen berasal dari andil kelompok pengeluaran transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,990 persen. “Penyumbang terbesar adalah angkutan udara,” ujar Nasser.
Kelompok bahan makanan lanjut Nasser, merupakan penyumbang terbesar kedua setelah transport, komunikasi dan jas keuangan. Kelompok bahan makanan ini memiliki andil sebesar 0,857 persen. Selanjutnya, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau menyumbang sebesar 0,047 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,012 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,008 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,003 persen.
Sementara kelompok pengeluaran sandang memberikan andil negatif terhadap inflasi sebesar 0,024 persen.
Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi tambahnya, antara lain tarif angkutan udara (0,98 persen), ikan ekor kuning (0,18 persen), ikan mujair (0,14 persen), ikan layang (0,09 persen), ikan kembung (0,09 persen), ikan selar (0,09 persen), daging ayam ras (0,06 persen), tomat buah (0,05 persen), telur ayam ras (0,05 persen) dan ikan teri segar (0,05 persen).
Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain ikan cakalang (0,04 persen), tahu mentah (0,02 persen), bawang merah (0,02 persen), baju muslim (0,01 persen), beras (0,01 persen), tempe (0,01 persen), kangkung (0,01 persen), kentang (0,01 persen), bawang putih (0,01 persen) dan ikan teri diawetkan (0,01 persen). (fit/Palu Ekspres)

Leave A Reply

Your email address will not be published.