Ini Gangguan Kepribadian yang Bakal Dialami Korban Kekerasan Seksual – Palu Ekspres
Kesehatan

Ini Gangguan Kepribadian yang Bakal Dialami Korban Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual

JAKARTA, PE – Kekerasan seksual masih menjadi fenomena gunung es di Indonesia. Spesialis kejiwaan dr Aimee Nugroho SpKJ, korban kekerasan seksual sebagian besar datang dalam kondisi depresi. Bahkan sebagian diantaranya datang ke psikiater dalam keadaan kepribadian borderline.

Gangguan kepribadian borderline sendiri adalah emosi penderita yang tidak stabil, mudah marah karena hal sepele, merasa kosong, dan sering melakukan self harm alias menyakiti diri sendiri dengan menyilet kulit hingga berdarah, hingga minum obat berlebihan untuk mencari perhatian orang disekitarnya.

’’Ada juga pasien dengan kepribadian borderline yang cenderung berganti-ganti pasangan,’’ ucap Aimee.

Semua itu, adalah wujud akibat dari kekerasan seksual yang berkepanjangan. Naasnya, pelaku kekerasan seksual itu semuanya adalah orang-orang terdekat. Aimee sendiri menceritakan pelaku dari pasiennya yang mengalami kekerasan seksual, adalah pacar, kakak, paman, ayah tiri, bahkan ada seorang perempuan yang dijual oleh suaminya sendiri.

Hampir semua korban, lalu tidak berani melapor pada polisi. Ditambah dengan budaya timur yang tabu memperbicangkan masalah seksual membuat korban bersikeras menyimpan akumulasi masalahnya. ’’Kalau sudah begini, ini bukan masalah budaya tapi menyangkut kekerasan dan pelanggaran HAM,’’ ujarnya.

Parahnya lagi, para korban kekerasan seksual acapkali mempunyai citra diri yang rendah. Karena riwayat kekerasan bisa membuat alam bawah sadar korban merasa layak diperlakukan dengan kekerasan. Khususnya untuk kasus kekerasan seksual yang korbannya adalah anak kecil. Semakin kecil usia korban dan semakin lama dia menjadi korban kekerasan seksual, maka semakin rendah self esteem alias citra diri.

Menurut Aimee, self esteem yang rendah cenderung membuat korban bungkam. Atau bila ada pencetusnya, korban baru merasa perlu untuk melapor pada polisi. Padahal, semakin lama seseorang menjadi korban kekerasan seksual, bisa jadi semakin kompleks penyakit jiwanya. ’’Penyembuhannya pun bisa semakin lama,’’ ucap Aimee.

Rangkaian pengobatan untuk korban kekerasan seksual disesuaikan dengan gejala yang dirasakan pasien. Yang pasti, pertama pasien diajak konseling untuk menyembuhkan trauma yang dialami. Untuk gejala depresi saja, pengobatan bisa berlangsung enam bulan. Namun bila sudah ada gangguan kepribadian borderline, maka harus dibantu dengan support group atau hypnotherapy. Dan masa pengobatannya pun bisa lebih lama.

Intinya untuk siapapun yang merasa korban kekerasan seksual, jangan takut untuk bicara. Karena semua korban kekerasan seksual tidak layak diperlakukan seperti itu.

’’Saya selalu tegaskan pada pasien kalau ini bukan salahmu, ini salah mereka yang memperlakukan anda seperti ini. Siapapun kamu, jangan takut dengan ancaman para pelaku kekerasan seksual, dimana-mana pelaku bisanya hanya mengancam,’’ tegas Aimee.

(ina/tia/PE)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!