Ini Daftar 26 Perusahaan yang Dihentikan Satgas OJK – Palu Ekspres
Ekonomi

Ini Daftar 26 Perusahaan yang Dihentikan Satgas OJK

PALU EKSPRES, JAKARTA – Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan kegiatan operasional 26 perusahaan hingga April 2017 ini. Kebijakan itu terpaksa diambil lantaran banyaknya pengaduan dari masyarakat.

Ketua Satgas Waspada Investasi OJK Togam L Lobing mengatakan, perusahaan-perusahaan tersebut dinyatakan tidak memiliki izin operasional serta berpotensi merugikan masyarakat.

“Kami sudah menelusuri 91 perusahaan, dan baru 26 yang sudah kami hentikan operasionalnya,” ungkap Logam kepada RMOLJabar, Sabtu (6/5).

Menurutnya, pengaduan adanya perusahaan tidak jelas ini setiap tahun meningkat, hal ini menandakan perusahan tidak berizin kian marak. Dari pengaduan dan penelusuran Satgas Waspada Investasi, perusahaan ini bergerak dalam bidang, antara lain keuangan, perkebunan, dan agrobisnis

“Selain tidak berizin keberadaan perusahaan ini tidak masuk akal, karena menjanjikan keuntungan yang besar, bunga yang dijanjikan mencapai 50 persen. Hal ini tidak masuk akal,” katanya.

Sebelumnya Satgas Waspada Investasi ini telah menghentikan kegiatan usaha tujuh entitas karena tidak memiliki izin dalam menjalankan kegiatan usahanya serta memberikan informasi yang tidak benar dan menyesatkan.

Perusahaan tersebut antara lain CV Mulia Kalteng Sinergis, Swiss FOREX PROFIT, PT sentra Arta, PT Sentra Artha Futures dan www.lautadhana.net.

“Satgas telah meminta kepada masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan investasi dengan entitas tersebut dan melaporkan kepada satgas apabila masih terdapat kegiatan penawaran investasi uang dilakukan,” tuturnya

Mengenai masih adanya masyarakat yang tertipu tawaran investasi “bodong” masyarakat saat ini tidak terlalu menelusuri keberadaan investasi bodong tersebut.

Mereka hanya tergiur keuntungan yang akan didapatkan dari hasil investasinya. Hal ini pulalah yang membuat cukup banyak korban investasi bodong justru adalah kalangan berpendidikan bahkan bisa di sebut kalangan mampu.

“Ironis memang, mereka yang berpendidikan tinggi bisa tertipu investasi bodong hanya karena iming-iming keuntungan besar, padahal kalau di logikakan itu tidak penting,” tandasnya.

(gun/rmol/mam/JPG)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top