Gubernur Kritisi Buku Cerita Sukses Pemberantasan Teroris, Tidak Jujur – Palu Ekspres
Palu

Gubernur Kritisi Buku Cerita Sukses Pemberantasan Teroris, Tidak Jujur

PALU EKSPRES, PALU – Jumat pagi di ruang Togean Hotel Palu Golden berkumpul tak sampai 100 orang. Ada akademisi, jurnalis, aktivis mahasiswa serta Gubernur Sulteng Longki Djanggola. Duduk di semeja dengan Gubernur, unsur forum komunikasi pimpinan daerah. Mereka mengutus pejabat untuk mewakilinya. Bahkan AKBP Hari Suprapto yang mewwakili Kapolda Sulteng, Brigjend Pol Rudy Sufahriadi datang terlambat. Alhasil sesi foto bersama, harus diulangi agar Kabag Humas Polda Sulteng itu masuk dalam sesi foto bersama.

Buku yang ditulis jurnalis, Syaefurahman Al-Banjari dan Suryadi, mayoritas berisi sanjungan terhadap putra asal Palembang – Sumatera Selatan itu hingga berhasil menduduki Trunojoyo 1, sebutan lain untuk kapolri. Di buku setebal 472 halaman itu, pembaca kurang menemukan, pemikiran murni seorang Tito Karnavian tentang bagaimana akar dan cara penanganan terhadap terorisme di Indonesia.

Membaca buku yang mengupas sepak terjang Tito Karnavian seorang prajurit polisi yang nyaris menghabiskan karirnya pada penanganan terorisme tanpa menemukan pemikiran murni soal sejarah panjang dan konsep penangangan terorisme di dalamnya, terasa mubasir.

”Sayang di buku ini tidak tergambar pemikiran murni selain tempelan cerita sukses penanganan teror di berbagai daerah di Indonesia,” ungkap salah satu penanya.

Gubernur Sulteng, Longki Djanggola juga memberikan kritiknya terhadap buku ini. Gubernur agak keberatan jika cerita teroris selalu disematkan di Sulteng khsususnya Poso tanpa mencantumkan langkah-langkah pemerintah terhadap pemulihan konflik itu sendiri.

”Jika ditulis lagi edisi keduanya, mohon agar buku ini mengakomodir aksi pemerintah termasuk operasi Tinombala yang sudah tahap ketujuh, harus diperjelas hingga operasi keberapa lagi,” ungkap Gubernur panjang lebar.

Diskusi yang dimoderatori senior AJI Palu, Tasrief Siara menjadi ajang bagi panelis mengajukan kritik. Buku ini menurut Dr Marzuki dari Universitas Tadulako, tidak bisa disebut sebagai biografi atau penelitian. Tapi soal cerita sukses Tito menangani teror yang terjadi di seluruh tanah air.

Penanya lainnya, bahkan mengatakan buku ini hanya cerita tempelan sejumlah peristiwa. Sehingga plot ceritanya putus-putus karena hanya memindahkan fakta di lapangan ke dalam sebuah bahasa tulis. Sehingga untuk membacanya akan terasa melelahkan.

Kritik lainnya, adalah ketidakjujuran buku ini mengungkap noktah merah perjalanan Densus 88 dalam penanganan terorisme di seantero negeri. ”Apa iya selama ini Densus tidak punya catatan kelam. Banyak kok yang salah tangkap, salah tembak tapi tidak terdokumentasi dengan jujur,” ungkap penanya lainnya.

Namun di mata Muzakir Tawil akademisi dari Untad, sebagai referensi tentang sepak terjang Densus 88 dalam penanganan teror di tanah air, buku ini cukup baik. Banyak peristiwa teror besar yang terekam dengan baik dalam buku dan bisa menjadi referensi untuk menelusuri basis terorisme di tanah air.

Penulis buku, Saefurrahman al-Banjary dan Suryadi , menyatakan bukunya menceritakan peran aktif Tito secara umum dalam mengatasi radikalisme dan terorisme di Indonesia.  Longki Djanggola menyatakan apresiasinya atas kegiatan bedah buku berjudul Tito karnavian dalam Pusaran Terorisme. Menurutnya penyelesaian konflik Poso merupakan hal terpenting untuk segera dilakukan.

Bahkan sebut Longki, dalam rapat Presiden Joko Widodo dengan Wapres Yusuf Kalla bersama seluruh Gubernur beberapa waktu lalu meminta Presiden segera menyelesaiakan konflik Poso. Dari situ ditindaklanjuti dengan pelaksanaan operasi Tinombala.

“Bagaimana kondisi Poso saat ini yang sudah aman dan tenteram dengan ditandai dengan sudah dibangunnya Mall di Kota Poso,”harapnya.

Diapun mengusulkan agar Operasi Tinombala dapat digandeng dengan operasi sipil untuk melakukan pendataan tentang masalah-masalah keperdataan.

(kia/Palu Ekspres)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top