EPASS, Mengajak Anak Bijak Memahami Alam – Palu Ekspres
Daerah

EPASS, Mengajak Anak Bijak Memahami Alam

TEKUN - Sejumlah anak peserta alam terlibat aktif belajar di tengah rindagnnya pohon cokelat di Desa Toro - Kulawi Kabupaten Sigi. Ist

PALU EKSPRES, KULAWI – Pada pagi 5 juni lalu, di tengah perkebunan cokelat milik warga di Desa Toro, Kulawi Kabupaten Sigi, sejumlah bocah SD tampak bergerombol.

Suasana perkebunan dengan bau tanah basah sisa hujan beberapa hari sebelumnya, memancing gairah puluhan anak-anak yang sehari-hari belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan SDN Desa Toro.

Bau humus yang terendus di sekeliling anak-anak ini, menghadirkan sensasi tersendiri bagi mereka yang saban hari akrab dengan suasana kaku ruang kelas yang cenderung membatasi kreatifitas dan imajinasi mereka.

Hari itu, mereka tak sedang melakukan panen raya di tengah harga kakao yang sedang lesu. Juga bukan untuk menyiangi tanaman kakao – sebuah kebiasaan anak usia sekolah di desa, yang harus berjibaku membantu orang tuanya di kebun.

Pagi itu, mereka sedang menggelar sekolah alam. Sekolah yang tak sekadar mengajarkan materi hapalan untuk mengejar deretan angka bagus di rapor. Sekolah alam adalah sekolah tentang kehidupan. Belajar untuk menumbuhkan kecintaan lingkungan tentang bagaimana memberlakukan alam sekitar secara bijak, tidak serampangan.

Inilah yang dilakukan, EPASS (enhanching protected area system in Sulawesi) dalam rangka memeringati Hari Lingkungan Hidup 2017.

EPASS adalah sebuah proyek Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dibiayai oleh GEF dan UNDP. Dalam kaitan Hari Lingkungan Hidup yang diperingati 5 Juni lalu, EPASS menggelar penanaman pohon, lomba menggambar dan Sekolah Alam Ngata Toro.

Mengusung tema Connecting People to Nature (menyatu dengan alam), EPASS ingin menanamkan tanggungjawab moral pada anak usia dini tentang bagaimana memberlakukan alam dengan bijak.

Bagi Ilfie Yanti Field Coordinator EPASS, kegiatan yang menyasar anak usia sekolah dasar dalam pendidikan konservasi adalah penting. Mereka adalah kelompok pewaris masa depan.

Kelompok tersebut ungkap mantan penyiar radio berita ini, harus diberi pemahaman yang cukup untuk meningkatkan kesadaran bagaimana memelihara lingkungan sekitar. Karena itu, tema sekolah alam dipilih tetap berkaitan dengan alam. Seperti menggambar alam sekitar, arung jeram dan menanam pohon di sepanjang sungai. Peserta ungkap perempuan manis ini tampak bersemangat.

“Ini menandakan bahwa pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik,” katanya bersemangat.

Menurutnya, EPASS mengapresiasi kepedulian masyarakat Desa Toro pada pelestarian hutan dengan mengedepankan kearifan lokal yang mereka miliki.

Bahkan hal itu telah lama dilakukan jauh sebelum Peringatan Lingkungan Hidup. Dukungan kepada sekolah alam Ngata Toro merupakan kegiatan yang terkait dari target output proyek yakni menurunkan tingkat ancaman di kawasan konservasi.

Rangkaian kegiatan Hari Lingkungan Hidup itu, mendapat apresiasi yang bagus dari tokoh masyarakat setempat, mulai pemerintah desa, lembaga adat dan BPD Desa Toro, pengelola dan guru sekolah alam Ngata Toro serta NGO lokal dan Jambata. Termasuk Balai Taman Nasional Lore sebagai mitra proyek EPASS.

(kia/Palu Ekspres)

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!