Ekonomi Global Melambat, Pertumbuhan Sulteng Solid – Palu Ekspres
Ekonomi

Ekonomi Global Melambat, Pertumbuhan Sulteng Solid

STABIL - Kepala Kantor BI Sulteng, Miyono (tengah) didampingi pimpinan BI lainnya dalam keterangan pers terkait perkembangan perekonomian. Foto Hamdi Anwar/ PE

PALU, PE – Kepala BI Sulteng Miyono menyebut perekonomian Sulteng tetap akan berjalan solid meski di tengah perlambatan ekonomi global. Bahkan Sulteng laju pertumbuhan ekonomi tahunan masih tercatat tinggi pada level nasional tahun 2016 yakni tumbuh 9,98 persen (yoy).

Setidaknya kata Miyono tergambar pada nilai nominal produksi barang dan jasa (PDRB) Sulteng yang mencapai Rp30,84 triliun  pada triwulan IV tahun 2016. Secara relati (atas dasar harga konstan 2010) mencapai Rp23,11 triliun, tumbuh 3,80 persen (yoy).

“Walaupun demikian, pertumbuhan pada triwulan ini lebih rendah dari angka triwulan III 2016 yang mampu mencapai 7,91persen (yoy).

Penyebab melambatnya pertumbuhan triwulan ini disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya terjadi lantaran tertundanya penyelesaian pabrik smelter. Hal ini menyebabkan ada potensi output yang belum terhitung dalam perekonomian Sulteng saat ini.

Kemudian terjadi penurunan produksi sub sektor perkebunan lantaran terkena imbas anomali cuaca elnino yang terjadi tahun 2015 silam.

“Ternyata elnino 2015 itu masih membawa dampak pada pertumbuhan Sulteng tahun ini,”jelas Miyono kepada wartawan, Rabu 8 Maret 2017 di kantor BI Sulteng.

Kontribusi pertumbuhan ekonomi Sulteng masih ditopang yang terbesar dari sektor industri pengolahan dan pertambangan. Sementara itu urai Miyono, dari PDRB sisi permintaan ekspor dan konsumsi rumah tangga juha masih menjadi penggerak yang dominan.

“Triwulan I tahun ini perekonomian Sulteng kami perkirakan masih tumbuh. Terutama didorong meningkatnya ekspor LNG dan adanya tambahan produksi smelter baru di Morowali Utara dengan kapasitas 100ribu pertahun,”jelasnya.

Di bagian lain, perkembangan harga barang dan jasa di Sulteng menurutnya juga semakin terkendali. Hal itu mendorong stabilisasi angka inflasi yang pada akhir triwulan IV tercatat 1,49persen (yoy). Atau lebih rendah dari triwulan sebelumnya yakni 4,08persen (yoy).

“Menurunnya tekanan inflasi 2016 disebabkan rendahnya tekanan inflasi inti yang terkonfirmasi dari perkembangan indeks kayakinan konsumen (IKK) yang tumbuh tidak sekuat periode sebelumnya, namun masih berada pada level optimis,”terang Miyono.

Dari sisi suply, kesuksesan dalam menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi barang oleh tim pengendali inflasi daerah (TPID) menurutnya menunjukkan dampak positif dalam menjaga tekanan inflasi volatile food.

Triwulan 1 tahun ini urai Miyono tekanan inflasi terprediksi sedikit meningkat. Itu lantaran masih berlangsungnya dampak anomali cuaca la nina yang dapat menurunkan pasokan ikan segar dan meningkatnya risiki gangguan produksi pada komoditas hortikultura.

“Namun dengan koordinasi yang baik melalui TPID, kami optimis target inflasi akhir tahun 4 plus minus 1 akan dapat tercapai,”demikian Miyono.

(mdi/Palu Ekspres)

Click to comment
To Top