Bupati Minta Tradisi Nompaura Dilestarikan – Palu Ekspres
Daerah

Bupati Minta Tradisi Nompaura Dilestarikan

PALU EKSPRES, PARIGI – Bupati Parigi Moutong, H Samsurizal Tombolotutu meminta Tradisi adat Nompaura atau upacara tolak bala yang setiap tahun digelar oleh warga desa Petapa terus dilestarikan. Menurutnya, nilai adat istiadat dan budaya tersebut merupakan warisan para pendahulu yang syarat makna.

“Oleh karena itu, tradisi adat seperti ini perlu terus kita lestarikan,”ujar Bupati Samsurizal ketika menghadiri upacara adat Nompaura di pantai desa Petapa, Minggu (3/9).

Ia juga meminta warga Petapa tetap menjaga ketertiban jelang kehadiran Presiden RI Joko Widodo ke Kabupaten Parigi Moutong 27 September mendatang.

“Insya Allah Bapak Presiden akan hadir kembali untuk ketigakalinya di Parigi Moutong. Untuk itu, mari kita jaga ketertiban,”harapnya

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo akan datang ke Kabupaten Parigi Moutong dalam rangka membuka gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) XIX tingkat Nasional Tahun 2017 di dusun Kayu Bura desa Pelawa Baru Kecamatan Parigi Tengah.

Tradisi Nompaura dalam bahasa Kaili biasa disebut sebagai tolak bala. Tradisi turun temurun itu juga dipercaya bisa mendatangkan kebaikan bagi warga.

Foto Jeprin

Nompaura dilaksanakan oleh para orang tua adat di wilayah itu berjumlah sekitar 20 orang terdiri dari 13 orang perempuan dan 7 orang laki laki. Para orang tua adat ini menggunakan seragam berwarna kuning. Usia mereka rata rata diatas 50 tahun. Sebagian warga lainnya mengebuk gendang secara bergantian

Beragam sesajen disajikan, mulai dari 4 ekor ayam jantan yang telah dipanggang, ketupat, makanan tradisional, beras, pisang. Beragam sesajen itu kemudian diletakan diatas sakaya pompaura atau perahu layar berukuran kecil lalu dilarung atau dibawa ke tengah laut.

Ketua BPD Petapa, Asmin Djido menuturkan, sesajen itu tidak seluruhnya dilarung ke tengah laut. Sebagian juga diletakan di darat dalam bentuk Funja dan Patampaa (tempat menaru sesaji). Kedua Benda itu merupakan simbol rasa syukur sekaligus permohonan warga agar dijauhkan dari bala.

“Intinya segala kebaikan yang diperoleh di darat sama dengan di laut. Kedua hal itu juga diyakini bisa menolak bala,”tutur Asmin Djido

Setelah semua sesajen siap dilarung dan diletakan di darat, para orang tua adat itu lalu melakukan narego atau mengelilingi sesajen tersebut.

“Hal itu diyakini bisa menolak bala dan mendatangkan kebaikan,”ungkapnya.

(Jeprin)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top