Berburu Hagala, Tradisi Lebaran Bocah Desa Malala yang Masih Eksis – Palu Ekspres
Daerah

Berburu Hagala, Tradisi Lebaran Bocah Desa Malala yang Masih Eksis

PALU EKSPRES, TOLITOLI – Berburu ‘hagala’ atau uang hadiah, wajib hukumnya bagi anak saat lebaran idul fitri. Tradisi demikian hampir terjadi disemua daerah‎

Namun sedikit berbeda bocah-bocah di Desa Malala Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli, Sulteng. Orang-orang tak perlu repot menyediakan uang pecahan kecil tatkala rombongan bocah mulai berseliweran di rumah-rumah warga.
‎‎
Mereka rombongan bocah -bocah hanya sekedar mampir sebentar bersilaturrahim. Mengenalkan diri pada sipemilik rumah. Menyebutkan asal dusun, sekolah dan nama kedua orang tua.

Semisal 10 anak dalam satu rombongan, hampir pasti si pemilik rumah mengenali satu atau dua diantara orang tua mereka. Terkadang jika ditelusuri, ada diantaranya masih terikat hubungan keluarga.

‎Usai menyalami orang seisi rumah, mereka pun berlalu pergi kerumah lainnya. Demikian singkat, hingga tak perlu repot menyuguhkan kue dan minum. Apalagi lembaran uang sebagaimana umumnya tradisi lebaran.‎

‎Toko masyarakat setempat menyebut tradisi demikian sudah berlaku puluhan tahun silam. Sebuah tradisi untuk membiasakan anak usia dini mengenali warga sekampungnya.

“Kelak mereka dewasa nanti, tak ada warga yang tak mereka kenali,”kata Sahrul, tokoh masyarakat setempat.

Kebiasaan lain bocah-bocah di desa yang berjarak tak lebih 60km dari ibukota Kabupaten Tolitoli ini saat lebaran adalah memberi sedekah kepada guru mengaji mereka. Di desa ini taman pengajian al-quran (TPA) dari lembaga formal hampir tak ada. Orang tua masih mengandalkan guru mengaji kampung. ‎

‎Karena itu dikala lebaran, rumah yang wajib dikunjungi pertama kali adalah guru ngaji untuk memberi sejumlah uang sesuai kemampuan. ‎

Maklum saja, jasa guru ngaji kampung berbeda dengan taman pengajian formal. Guru ngaji kampung tidak membebani biaya pendaftaran apalagi iuran bulanan.

Muridnya hanya perlu melakukan ‘cera’ atau selamatan dalam setiap prosesnya. Cera dilakukan apabila seorang murid berhasil menamatkan bacaan untuk Al-Qur’an kecil. Kemudian dilakukan lagi saat berhasil menamatkan bacaan Al-Qur’an besar. ‎

Biaya yang dikeluarkan dalam proses cera tidak terlalu mahal. Cukup dengan membawa seekor ayam kampung dan sebungkus gula merah.

(mdi/Palu Ekspres)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top