Bencana: Pengadilan Oleh Alam? – Palu Ekspres
Opini

Bencana: Pengadilan Oleh Alam?

Oleh : Muhd Nur Sangadji

Sebuah getaran dahyat berkekuatan 6,6 skala richter tiba-tiba menimpa beberapa kawasan di Provinsi Sulawesi Tengah. Episentrumnya ada di Kabupaten Poso. Persis di tengah-tengah pulau Sulawesi. Beberapa hari kemudian, muncul bencana banjir yang melanda sejumlah kabupaten di wilayah ini. Semua kejadian bertepatan dengan hari lingkungan hidup sedunia.

Dan, juga dengan bulan, dimana umat Islam sedang dicoba dalam ibadah ramadhan untuk membentuk kekuatan iman yang berkualitas. Maka, bencana ini seolah menjadi elemen cobaan di atas cobaan.

Dua bencana yang menimpa Sulawesi Tengah ini, bisa dianalisa dari dua pespektif. Pertama, bencana gempa tektonik bersifat klimasik (sunatullah), tanpa pengaruh manusia. Kedua, bencana banjir juga adalah kehendakNya, tapi peran dan pengaruh manusia (antropik) ikut mempercepat (akselerasi) prosesnya.

Banjir, menurut hemat saya, terjadi akibat kesenjangan/jarak antara intensitas curah hujan dengan kemampuan serapan bumi dan hambatannya. Intensitas hujan berkait dengan besaran/deras dan lamanya. Serapan bumi adalah kemampuan bumi/vegetasi/hutan menampungnya.

Sementara, hambatan dapat berupa saluran drainase dan atau sampah yang menghalangi serapan tanah dan saluran pembuangan. Dengan kata lain, secara matematika, banjir adalah fungsi dari intensitas curah hujan, berbanding terbalik dengan serapan bumi dan berbanding lurus dengan hambatan.

Intensitas hujan bersifat mutlak (given/sunatullah), sedangkan serapan dan hambatan, melibatkan peran manusia secara langsung. Hal lain berkaitan dengan peran manusia adalah kehadiran mereka secara deterministik pada pusat bencana. Kehadiran penduduk di bantaran sungai adalah contoh nyata.Aturan yang melarang permukiman 100 meter dari pinggiran sungai akan berbentur dengan asumsi masyarakat bahwa mereka lebih dahulu ada sebelum lahirnya aturan tersebut.

Padahal, bila sungai bisa bicara secara personifikasi, maka dengan logika yang sama, dia akan berkata siapa yang lebih dahulu ada di kawasan ini, manusia atau saya? Jadi, sangat boleh, bencana itu hadir karena alam mengambil kembali haknya yang dirampas oleh manusia dengan semena-mena.

Mulai dari hutan yang dirombak, sampah yang ditebar dan lebar sungai yang disempitkan. Untuk itu, tidak ada pilihan lain. Saatnya kita bertindak bijak dengan alam. Ikhtiar kongkritnya sebagai berikut; stop buka hutan premier untuk kebun monokultur seperti kelapa sawit, Berhenti akupasi kawasan pinggiran sungai dan laut.

Budayakan membuang sampah pada tempatnya. Bangun kepekaan warga tentang bencana. Evaluasi dan tegakan hukum bagi pelanggaran RT RW. Lindungai kawasan konsevasi.

Kurangi pembukaan sawah baru. Awasi ketat alih fungsi lahan dan kepemilikan. Dan dorong konsumsi pangan lokal (ubi, pisang, sagu dll). Serta, upaya lain sebelum pengadilan alam itu datang kembali. Wallahu a’alam.

 

Click to comment

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!