Belilah yang Rusak dari Mereka yang Distigmakan Rendah – Palu Ekspres
Opini

Belilah yang Rusak dari Mereka yang Distigmakan Rendah

Muhd Nur Sangadji

Oleh: Muhd Nur Sangadji

DI ujung selatan jalan Setia Budi Kota Palu, anda akan bertemu dengan sekelompok Ibu-Ibu padagang buah. Mereka mengokupasi  trotoar untuk menjual mangga, pepaya, nenas dan sarikaya.

Letaknya persis di depan rumah warga dan di bawah pohon angsana yang rindang. Saya sudah terkagung-kagum pada pemilik rumah yang membolehkan para pedagang itu menganggu areal privasi mereka. Tentu tidak dibolehkan, tapi nampaknya pemkot juga membiarkannya.

Jumlah mereka memang tidak banyak. Sekitar empat lima keluarga saja. Mereka datang dari kaki gunung baagian barat kota Palu. Inilah komunitas yang  selama ini disebut orang gunung. Panggilan yang dalam terminologi lokal distigmakan rendah.

Dahulu mereka (umumnya kaum lelaki) turun dari gunung. Membawa hasil bumi terutama madu, dan atau hasil kreasi berupa parang dan sumpit untuk dijual.  Belakangan mereka datang (laki dan perempuan bahkan bersama bayi) dengan tangan kosong untuk mendapatkan kerja dan atau meminta-minta.

Kali ini, seolah ada kebangkitan kaum perempuannya.  Mereka sebahagiannya tersebar memikul pisang dan kacang kulit.

Dengan cucuran keringan oleh beban. Mereka   berkeliling kota menjajakan jualannya di jalan raya dan lorong-lorong. Sebahagian lagi, memilih menetap, termasuk yang di Jalan Setia Budi ini.

Bahan dagangan ini bukan hasil kebun meraka sendiri. Tapi, yang mereka beli di Pasar-pasar. Indikasi runtuhnya daya dukung ekologi bagi produksi pangan pegunungan dan hilangnya spirit bertani.

Sesunggunya kalau dicermati, inilah pilihan dari  kaum yang kalah oleh kompetisi ruang di pasar-pasar tradisional kita. Dahulu, tradisi pasar ini digelar dalam hitungan hari secara berjangka.

Ada pasar senin, kamis dan minggu. Ketika tradisi berubah. Pasar di gelar harian atau setiap hari,  maka ruang kosong, diambil alih oleh mereka yang terbiasa hadir saban hari. Untung saja, prosesnya berlangusung alamiah tanpa gesekan sosial yang memproduksi konflik.

Karena itu, penyelenggara pembangunan (baca, pemerintah) harus bijak mengelola fenomena ini secara progresif dan inovatif.

Sore itu, saya melintas di Jalan Setia Budi. Tiba-tiba muncul keinginan membeli pepaya rusak (busuk).  Penjualnya bilang pepayanya sudah rusak dan tidak dijul lagi. Dan, saya bilang, justru saya sedang mencari pepaya rusak.

Sesungguhnya, bisa dijadikan bibit atau menjadi  bahan untuk pukuk organik. Tapi, bukan itu niatan saya. Pepaya yang sudah tidak berharga ini, lalu ditetapkanlah harga separuh dari yang masih bagus.

Dan, ketika peristiwa ini saya ceritakan pada mahasiswa, hampir semuanya menolak. Saya memaklumi karena mahasiswa menggunakan otak untuk berpikir.  Tapi kalau mereka juga menggunakan hati untuk merenung, saya yakin, mereka sependapat.

Bahkan, tindakan ini akan menyelamatkan kita.  Karena, sayur yang rusak (berlubang karena dimakan hama) adalah indikasi tidak mengandung pestisida.   Maka, belilah yang rusak. Karena, kita juga sedang  belajar mengambil sedikit dari kerugian orang,  menjadi kerugian kita. Entahlah.

Belilah yang Rusak dari Mereka Orang yang Distigmakan Rendah

Oleh: Muhd Nur Sangadji

DI ujung selatan jalan Setia Budi Kota Palu, anda akan bertemu dengan sekelompok Ibu-Ibu padagang buah. Mereka mengokupasi  trotoar untuk menjual mangga, pepaya, nenas dan sarikaya.

Letaknya persis di depan rumah warga dan di bawah pohon angsana yang rindang. Saya sudah terkagung-kagum pada pemilik rumah yang membolehkan para pedagang itu menganggu areal privasi mereka. Tentu tidak dibolehkan, tapi nampaknya pemkot juga membiarkannya.

Jumlah mereka memang tidak banyak. Sekitar empat lima keluarga saja. Mereka datang dari kaki gunung baagian barat kota Palu. Inilah komunitas yang  selama ini disebut orang gunung. Panggilan yang dalam terminologi lokal distigmakan rendah.

Dahulu mereka (umumnya kaum lelaki) turun dari gunung. Membawa hasil bumi terutama madu, dan atau hasil kreasi berupa parang dan sumpit untuk dijual.  Belakangan mereka datang (laki dan perempuan bahkan bersama bayi) dengan tangan kosong untuk mendapatkan kerja dan atau meminta-minta.

Kali ini, seolah ada kebangkitan kaum perempuannya.  Mereka sebahagiannya tersebar memikul pisang dan kacang kulit.

Dengan cucuran keringan oleh beban. Mereka   berkeliling kota menjajakan jualannya di jalan raya dan lorong-lorong. Sebahagian lagi, memilih menetap, termasuk yang di jalan setia budi ini.

Bahan dagangan ini bukan hasil kebun meraka sendiri. Tapi, yang mereka beli di Pasar-pasar. Indikasi runtuhnya daya dukung ekologi bagi produksi pangan pegunungan dan hilangnya spirit bertani.

Sesunggunya kalau dicermati, inilah pilihan dari  kaum yang kalah oleh kompetisi ruang di pasar-pasar tradisional kita. Dahulu, tradisi pasar ini digelar dalam hitungan hari secara berjangka.

Ada pasar senin, kamis dan minggu. Ketika tradisi berubah. Pasar di gelar harian atau setiap hari,  maka ruang kosong, diambil alih oleh mereka yang terbiasa hadir saban hari. Untung saja, prosesnya berlangusung alamiah tanpa gesekan sosial yang memproduksi konflik.

Karena itu, penyelenggara pembangunan (baca, pemerintah) harus bijak mengelola fenomena ini secara progresif dan inovatif.

Sore itu, saya melintas di Jalan Setia Budi. Tiba-tiba muncul keinginan membeli pepaya rusak (busuk).  Penjualnya bilang pepayanya sudah rusak dan tidak dijul lagi. Dan, saya bilang, justru saya sedang mencari pepaya rusak.

Sesungguhnya, bisa dijadikan bibit atau menjadi  bahan untuk pukuk organik. Tapi, bukan itu niatan saya. Pepaya yang sudah tidak berharga ini, lalu ditetapkanlah harga separuh dari yang masih bagus.

Dan, ketika peristiwa ini saya ceritakan pada mahasiswa, hampir semuanya menolak. Saya memaklumi karena mahasiswa menggunakan otak untuk berpikir.  Tapi kalau mereka juga menggunakan hati untuk merenung, saya yakin, mereka sependapat.

Bahkan, tindakan ini akan menyelamatkan kita.  Karena, sayur yang rusak (berlubang karena dimakan hama) adalah indikasi tidak mengandung pestisida.   Maka, belilah yang rusak. Karena, kita juga sedang  belajar mengambil sedikit dari kerugian orang,  menjadi kerugian kita. Entahlah.

Email: mudrezas@yahoo.com/0811454282

Click to comment

BERITA POPULER

To Top