Bawaslu-Polisi Berbeda Tafsir, Bayu Montang Lolos… – Palu Ekspres
Daerah

Bawaslu-Polisi Berbeda Tafsir, Bayu Montang Lolos…

Ketua Bawaslu Sulteng Ruslan Husen dan anggota Satriawati bersama unsur sentra Gakkumdu dalam keterangan pers terkait keputusan dugaan pelanggaran pidana Pemilu, Jumat 13 April 2018 di sekretatiat Bawaslu Sulteng. Foto Hamdi Anwar

PALU EKSPRES, PALU – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulteng, kepolisian dan jaksa dalam sentra penegakan hukum terpadu (Gakkumdu) Sulteng berbeda penafsiran memutuskan dugaan pelanggaran pidana Pemilu yang dilakukan politisi Hanura Sulteng, Bayu Alexander Montang.

Akibatnya sentra Gakkumdu kemudian menetapkan dugaan pelanggaran itu tak bisa dilanjutkan ke proses penyelidikan alias dihentikan.

Dugaan pelanggaran Bayu sebelumnya menjadi temuan Bawaslu Sulteng dan telah diregister dengan nomor 4/3/2018. Temuan ini pun telah dibahas bersama polisi dan jaksa dalam sentra Gakkumdu.

Dalam pemuatan iklan itu Bayu turut menyertakan lambang partai Hanura dengan tag line yang dianggap pencitraan diluar dari jadwal kampanye yang telah ditetapkan.

Bawaslu Sulteng berpendapat penayangan iklan yang dipajang Bayu dalam sebuah koran lokal Sulteng, masing-masing edisi 9,12,13 dan 19 Maret 2018 telah memenuhi unsur pelanggaran pidana Pemilu sesuai pasal 492  undang-undang nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu.

Sedangkan kepolisian dan kejaksaan menilai temuan itu belum memenuhi unsur pasal 492. Kedua pihak bersepakat temuan itu tak bisa dilanjutkan ke proses penyelidikan.

Pendapat kepolisian ini diputuskan setelah mendapat penjelasan dari tim ahli dalam hal ini KPU Sulteng.

Dalam Pasal 492 disebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja berkampanye di luar jadwal yang ditetapkan KPU untuk setiap peserta pemilu, sebagaimana dimaksud Pasal 276 ayat 2, dipidana maksimal satu tahun penjara dan denda maksimal Rp 12 juta.

Sementara PKPU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Pemilu 2019, mengatur masa kampanye baru bisa dimulai 23 September 2018 hingga 13 April 2019.

Ketua Bawaslu Sulteng Ruslan Husen dalam keterangan persnya Jumat 13 April 2018 di Sekretariat Bawaslu mengakui perbedaan penafsiran itu. Dia menjelaskan jika situasi demikian maka perkara itu tidak bisa dilanjutkan.

“Ini sebagaimana ketentuan dalam peraturan Bawaslu RI terkait sentra Gakkumdu,”jelasnya.

Perbedaan tafsir dalam pasal 492 jelas Ruslan, terletak pada kata ‘setiap orang’. Ruslan menilai kata ‘setiap orang’ yang dimaksud dalam ketentuan itu adalah subjek yang kedudukannya sama dengan kata badan hukum. Badan hukum dimaksud adalah partai politik (Parpol) peserta Pemilu 2019.

“Menurut kami unsur setiap orang itu sudah terpenuhi. Orang per orang atau badan hukum,”jelasnya.

Antara orang dengan dengan badan hukum (Parpol) saat ini kedudukannya belum sama dalam tahapan kampanye. Itu karena Peserta pemilu yang dimaksud dalam ketentuan itu adalah Parpol yang telah ditetapkan oleh KPU lengkap nomor urut. Peserta Pemilu baru bisa berkampanye pada 23 September 2018 nanti.

Sedangkan orang atau bakal calon, belum dapat dikatakan peserta Pemilu karena belum ditetapkan sebagai daftar calon tetap (DCT).

Meski begitu katanya, proses pengambilan keterangan yang bergulir hingga ke sentra Gakkumdu dan akhirnya diputuskan tidak berlanjut, setidaknya telah mengesankan upaya pencegahan agar peserta Pemilu lain tidak melakukan hal yang sama.

“Aspek pencegahan sebenarnya sudah kita capai. Karena ketika kasus ini bergulir ke Gakkumdu, iklan itu langsung diturunkan saat itu juga,”sebutnya.

Diapun mengimbau kepada peserta tidak berbuat hal sama. Yaitu kampanye diluar jadwal. Sebab menurutnya itu berpotensi pelanggaran administrasi dan pidana Pemilu.

Kompol Ngadimin dari Polda Sulteng menjelaskan bahwa dalam pembahasan sentra Gakkumdu, pihaknya berfokus pada subjek hukum yaitu orang per orang. Dan mendudukan terduga Bayu sebagai subjek hukum yang dimaksud dalam pasal 492.

“Bukan Parpol yang menjadi subjek hukum akan tetapi orangnya. Jika berbicara orang, maka terlapor (Bayu) saat ini belum berstatus peserta karena belum ditetapkan dalam DCT,”jelasnya.

Penafsiran itu kata dia sesuai dengan keterangan ahli yaitu KPU Sulteng. Tugas polisi dan jaksa dalam Sentra Gakkumdu sebutnya mengumpulkan alat bukti kemudian mencari pemenuhan unsur pelanggaran pidananya

“Nah dalam pemenuhan unsur itu, kami mengambil keterangan ahli (KPU). KPU menyatakan itu tidak memenuhi unsur. Makanya laporan ini tak bisa dilanjutkan ke penyelidikan,”demikian Ngadimin.

(mdi/Palu Ekspres)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!