Banyak Warga Bercerai, Bupati Morowali Ingin… – Palu Ekspres
Daerah

Banyak Warga Bercerai, Bupati Morowali Ingin…

PALU EKSPRES, BUNGKU – Bupati Morowali, Anwar Hafid berharap ke depan dapat terbentuk tim, hasil dari kerjasama antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Morowali bersama Badan Penasehat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4), Pengadilan Agama (PA) dan Kementerian Agama (Kemenag), yang bertugas untuk menekan angka perceraian di Kabupaten Morowali.

Hal ini disampaikannya, saat memberi sambutan pada peluncuran Proyek Perubahan Peningkatan Kualitas Keagamaan, Melalui Optimalisasi Peran BP4 Kabupaten Morowali, yang digagas oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Morowali, Hj. Marwiah, akhir pekan lalu.
Tingkat perceraian di Kabupaten Morowali, pada tahun 2016 berada di angka 157 kasus, sedangkan pada tahun 2017 meningkat tajam hingga mencapai 203 kasus.

“Dengan kerjasama antara BP4, PA dan Kemenag, diharapkan ada tim yang dibentuk sehingga dapat menekan angka perceraian. Dampak perceraian ke depannya juga harus dapat dipertimbangkan, sehingga tidak mudah memutuskan pasangan untuk bercerai,” kata Anwar.

Secara umum, Bupati meminta kepada Kemenag untuk dapat membantu daerah, khususnya Kabupaten Morowali, untuk mewujudkan masyarakat yang religius dan nasionalis, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Sulteng, H. Abdullah Latopada menyebutkan, peran Kemenag dalam pencegahan perceraian melalui BP4 yang terdapat di KUA, harus lebih diperketat, khususnya terkait pengajuan keputusan bercerai.

Abdullah juga mengatakan, pencegahan terhadap tindakan perceraian dapat pula dilakukan, melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan Majelis Ta’lim. Apalagi, Kemenag Sulteng telah menggagas terbentuknya Majelis Ta’lim Hubbul Wathan, yang diharapkan keberadaannya hingga di tingkat desa.

“Selain dapat penambahan wawasan keagamaan Islam, diharapkan nantinya di dalam Majelis Ta’lim itu ada materi tentang ketahanan keluarga, sehingga dapat mencegah adanya niat maupun tindakan, untuk melakukan perceraian,” jelas Abdullah.

Ia menambahkan, beberapa kasus perceraian turut dipicu oleh perkembangan teknologi, yang tidak dibarengi dengan penerapan yang bijak. Teknologi seperti ponsel pintar kata Abdullah, dapat menjadi sesuatu yang bermata dua, dapat digunakan untuk kebaikan dan sebaliknya juga dapat mendatangkan keburukan.

Olehnya Abdullah menekankan, pemahaman keagamaan yang baik akan mampu menjadi filter, dalam menyaring serta menghindarkan perbuatan buruk yang dilakukan melalui ponsel pintar, atau teknologi berkembang pada umumnya.

Kepala Kantor Kemenag Morowali, Hj. Marwiah mengatakan saat ini masyarakat di Kabupaten Morowali, khususnya di kalangan umat Islam sedang mengalami krisis dalam hal ketahanan rumah tangga, yakni dalam bentuk tingkat kasus perceraian yang cukup tinggi, bahkan hingga mencapai 150 persen.

“Maka untuk meningkatkan pelayanan, perlu adanya kerjasama antara Kemenag Morowali, Pemerintah Kabupaten, Pengadilan Agama Morowali, serta BP4, agar lebih ketat lagi dalam menindaklanjuti laporan masyarakat, dalam hal permasalahan rumah tangga, Karena Ketika perceraian terjadi, generasi kita yang akan terganggu,” ujar Marwiah.

(abr/Palu Ekspres)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!