Ayah Bakar Sate, Eh Malah Sang Anak yang Terbakar – Palu Ekspres
Daerah

Ayah Bakar Sate, Eh Malah Sang Anak yang Terbakar

KESAKITAN: Jamaludin, balita berusia tiga tahun saat mendapat penanganan media di ruangan tindakan IGD RS Sanglah ditemani oleh ayah dan ibunya. (Juliadi/Radar Bali)

PALU EKSPRES, DENPASAR – Seorang bayi laki-laki berusia 3 tahun harus merasakan sakit setelah sekujur tubuhnya terbakar minyak spirtus, Minggu (3/9) kemarin.

Ya, Jamaludin mengalami luka bakar akibat keteledoran ayah sendiri yang sedangkan membakar sate.

Kini balita yang tinggal di daerah Panjer, Renon Denpasar masih mendapat perawatan intensif di ruangan tindakan IGD RS Sanglah.

Ayah korban Ahmad yang di temui di ruangan IGD RS Sanglah sangat menyesal dengan insiden yang menimpa anaknya. Dia mengaku anaknya terbakar akibat ulah dirinya.

Peristiwa yang menimpa Jamaludin terjadi sekitar pukul 14.30 di rumahnya. Bermula saat Ahmad dan keluarganya bermaksud membakar sate kambing.

Kemudian buah hatinya Jamaludin sedang bermain di halaman rumah tepat berada dekat dengan pemanggangan sate yang berisi arang.

Minyak spirtus lalu ditaruh di dekat pemanggangan sate. Saat menghidupkan api, seketika api menyambar minyak spiritus yang berada dekat dengan pemanggangan sate.

Nahas, minyak spirtus berisi 1 liter langsung meledak dan membakar anaknya yang saat itu sedang bermain.

“Benar terkejut dan panik saya ketika melihat kejadian yang menimpa Jamaludin. Pasalnya hanya hitungan detik api langsung membakar tubuh Jamaludin,” ungkap Ahmad dengan nada sedih.

Dikatakan Ahmad, daging kambing yang dibuat sate diberikan oleh pihak musholla rumahnya yang saat itu sedang berkurban.

Sekitar 3 kg lebih daging kurban yang diberikan. “Hampir setiap tahun daging kurban dari musholla keluarga kami dapat,” ucapnya.

Kondisi buah hatinya saat ini masih kritis, kesakitan dan terus menangis. Luka bakar yang mengenai tubuhnya hingga 45 persen berada di bagian wajah, kedua tangan dan dada di bagian depan.

“Saya hanya bisa pasrah melihat kondisi Jamaludin. Melihat dia terbaring di IGD, ingin rasanya saya yang menggantikannya,” imbuh Ahmad sambil mengeluarkan air mata.

Anaknya diminta oleh pihak rumah sakit untuk dirawat inap di ruangan unit luka bakar. “Namun saya menolak, pasalnya saya tidak tak sanggup membayar semua biaya rumah sakit. Karena untuk sekedar makan pun keluarga kami susah,” ungkap pria penjual mainan anak-anak ini.

Dengan keadaan seperti ini terpaksa buah hatinya harus dirawat di rumah. Kemudian disarankan oleh pihak dokter untuk melakukan rawat jalan dan kontrol tiga hari sekali di RS Sanglah.

(rb/jul/mus/JPR)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!