Atjo: Membangun Negeri ini tak Bisa Sendiri – Palu Ekspres
Nasional

Atjo: Membangun Negeri ini tak Bisa Sendiri

 

INDRAMAYU, PE- Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, Dr Hasanuddin Atjo menegaskan untuk membangun sektor perikanan di negeri ini tidak bisa dilakukan sendiri. Saling mencontoh dan memberikan masukkan itu adalah keniscayaan. Makanya studi banding  menjadi sangat penting bila ingin mengembangkan sektor perikanan dan kelautan. Hal ini dikatakan Atjo di hadapan Kepala DKP Indramayu, Ir H Abdurrosyid Hakim, dikantor DKP  Indramayu, Jumat 4 September 2015. Hadir pula staf DKP Indramayu dan rombongan nelayan Sulteng serta tim DKP Sulteng.

Apa yang ada di Indramayu mungkin saja tak ada di Sulteng. Demikian sebaliknya. Untuk sektor perikanan dan kelautan,   setidaknya  infrastruktur perikanan di kabupaten berjulukkan Kota Mangga ini, jauh lebih siap dibandingkan dengan Sulteng. Bahkan stake holder pendukung  seperti perbankan sangat antusias mengucurkan kredit di Indramayu. Hal yang hingga kini masih menjadi kendala di Sulteng.

Menurut Abdurrosyid, di Indramayu pihak perbankan bahkan membujuk pelaku perikanan, seperti juragan ikan dan pengusaha untuk mengambil kredit. “Bahkan bank-bank disini saling mengklaim paling banyak mengucurkan kredit untuk perikanan,” ujar Abdurrosyid saat menyambut rombongan DKP Sulteng di kantor DKP Indramayu.

Perbankan percaya diri untuk menyalurkan dana, karena ada jaminan berupa asuransi yang harus diikuti para kreditor. “Jadi pihak bank memiliki konsorsium asuransi yang bisa menjamin kredit para nelayan,” ujarnya. Konsorsium Asuransi Kredit Perikanan (KAKAP) inilah yang membuat perbankan merasa aman mengucurkan kredit. Asuransi itu bisa mencapai Rp2 Miliar per unit.

“Dulu harus punya jaminan seperti sertifikat tanah,  sekarang tidak lagi,” kata alumnus Fakultas Perikanan Universitas Diponegoro Semarang ini. Untuk urusan perbankan pemerintah tak campur tangan, termasuk soal  pembentukan KAKAP tersebut. “Ya kami hanya memediasi saja,” ujarnya. Memang hasil dari sektor perikanan sangat besar di Indramayu. Dengan membuat peraturan daerah untuk menarik retribusi 2,25 persen dari hasil tangkap itu bisa menghasilkan Rp9 miliar per tahun.

Tentang perbedaan lain, adalah pengembangan Udang Supra Intensif yang tengah dikembangkan di Sulteng. Dan  belum ada di Indramayu. Ato siap untuk berbagi ilmu soal pengembangan Udang Vanamae Supra Insentif tersebut. (aaa)

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!