Petani Sulteng Masih Terkendala Pasar – Palu Ekspres
kop
Berita Utama

Petani Sulteng Masih Terkendala Pasar

MISKIN SULTENG

Tri Iriani Lamakampali (foto: HAMDI ANWAR/PE)

Soal Tingginya Angka Kemiskinan Sulteng

PALU,PE- Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Sulteng Tri Iriani Lamakampali menyebutkan produksi komoditas pertanian Sulteng secara umum stabil dan berkembang positif. Produksinya bahkan lebih baik dari beberapa provinsi lainnya di Sulawesi. Namun, produksi tersebut kata dia, memang belum bisa berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani di Sulteng. Persoalan itu menurutnya terkait erat dengan mekanisme pemasaran hasil produksi yang tidak stabil di tingkat petani.

“Ini menyebabkan nilai tukar petani rata-ratanya belum mencapai 100, masih berkisar di 98. Artinya, pengeluaran petani dan pendapatan belum seimbang akibat mekanisme harga komoditi di pasaran yang tidak stabil,” jelas Tri Iriani.
Mengenai intervensi pasar ini, Tri Iriani menyebut itu diluar dari tugas dan fungsi (Tusi) DTPH. Tugas itu menurutnya ada pada institusi lain. Tusi DTPH adalah mendorong upaya peningkatan hasil pertanian melalui intervensi dari berbagai pendekatan.

BACA JUGA:  Hasil UN Bukan Penentu Kelulusan

“Sebenarnya Tusi dari lembaga lain itupun saat ini pada prinsipnya sudah berjalan. Namun mungkin belum maksimal di lapangan,”ujarnya.

Berbicara soal mekanisme pasar, Iriani menjelaskan ada permasalahan krusial yang solusinya harus dipikirkan bersama. Persoalan itu adalah permainan harga ketika produksi sedang meningkat. Menurutnya, harga jual komoditi akan menurun ketika produksi sedang tinggi. Harga komoditi ini menurutnya biasa menjadi permainan para tengkulak. ?

“Dalam hal ini kita sudah menggenjot bagaimana produksi petani itu tinggi. Tapi kemudian ketika produksinya tinggi harga di pasar justru menurun,”jelasnya.

Sementara kecendrungan¬† petani umumnya ingin mendapatkan hasil instan meskipun harga rendah. “Perilaku ini yang tidak disadari petani bahwa dampaknya lebih besar jika demikian,”jelasnya lagi.

Sejauh ini intervensi pemerintah untuk memutus rantai pola pasar yang merugikan petani baru dilakukan pada komoditi jagung. Bulog saat ini jelas Iriani sudah mengintervensi harga jagung dengan standar Rp3.150 per kilogram. “Artinya jika harga di pasar turun dari Rp3.150, maka ada Bulog yang siap membeli dengan harga itu,” jelasnya lagi.

BACA JUGA:  Pemuda Paling Berkepentingan Program 30 Ribu Tenaga Kerja

Upaya pemerintah menurutnya sejauh ini tetap diarahkan pada program pengembangan perluasan area tanam baru dan peningkatan produksi petani. Yaitu, memanfaatkan lahan-lahan yang belum eksisting.

“Masih banyak lahan potensial yang masih bisa dikembangkan. Model bantuan kita nanti di samping insentifikasi juga eksentifikasi. Di situ cetak sawah, pengembangan lahan tidur dan terlantar sekaligus menyalurkan bantuan benih dan pupuk,” urainya.

Berdasarkan hasil studi perencanaan yang dilakukan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, tahun 2016 Sulteng masih miliki potensi sawah 20ribu hektar. “Potensi ini tersebar di kabupaten selain¬† Banggai Laut, Banggai Kepulauan dan Kota Palu,” jelasnya.

Tahun ini DTPH tetap akan melaksanakan program sebelumnya. Seperti cetak sawah. Perbaikan irigasi. Bantuan benih dan pupuk termasuk peralatan pertanian.

“Kita akan memaksimalkan pemanfataan anggaran APBN dan APBD yang ada untuk program-program tersebut,”ujarnya.
Pihaknya juga akan terus mendorong peningkatan kerjasama bersama TNI untuk usaha pengembangan produksi hasil pertanian petani.

BACA JUGA:  BPJS Kesehatan Masih Tekor Rp 11 T

“Selain itu kami berharap pimpinan wilayah kabupaten kota bisa bersinergi dengan kebijakan pemerintah pusat dan provinsi,” harapnya.

Tahun ini pihaknya juga berencana menyalurkan kartu miskin petani. Untuk tahap awal akan menyalurkan bantuan benih dan pupuk bagi petani dengan lahan garapan minimal 2hektar. Pihaknya saat ini sedang menyusun pedoman pelaksanaan kebijakan tersebut.

“Prioritas bagi petani miskin kategori tersebut. Sehingga kedepan produksi petani itu bisa meningkat dalam setiap musim tanam,”demikian Tri Iriana.

Sebelumnya diberitakan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng merilis angka kemiskinan Sulteng yang mencapai 14,9persen. Salahsatu penyebab kemiskinan itu karena produksi pertanian Sulteng tumbuh lambat terhadap kontribusi pertumbuhan ekonomi. (mdi)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top